Untuk mata kuliah bahasa indonesia 2 ini masuk dalam kategori softskill yang mana mahasiswa di haruskan lebih aktif pada mata kuliah ini, sedangkan seorang dosen hanya memberikan tugas - tugas saja dan memberikan bimbingan dalam tatap muka 1 bulan sekali, dan kelipatan absensi itu sendiri 1 kali pertemuan merupakan 4 kali kehadiran dalam 1 bulan, tanggapan dari saya pribadi terdapat sisi kebaikan dan kelemahan pada mata kuliah ini.

       Kebaikan dari adanya tugas - tugas yang diberikan sangatlah berarti untuk kemandirian seorang mahasiswa dalam menuangkan apresiasi dan kreatifitas terpendam dalam berbagai tulisan yang dikirimnya.

       Kelemahan dari kegiatan softskill ini membuat mahasiswa merasa kurang puas karena hanya 1 bulan sekali bertemu dengan seorang dosen, sehingga banyak menimbulkan kekurang jelasan dalam penyampaian tugas - tugas yang diberikan, dan pada saat pengiriman tugas masih saja sering terdapat gangguan yang ada, sehingga sering tertunda dan tidak tepatnya waktu tugas yang dikirimnya.
       Terimakasih untuk ibu dosen yang telah membimbing kami untuk lebih mandiri dan lebih kreatifitas lagi pada mata  kuliah softskill ini.

Ahmad Rohimi
10207071                                                
3EA10

date Selasa, 01 Juni 2010

         Sebenarnya dalam belajar bahasa indonesia 1 materi yang di ajarkan tidak jauh dari pelajaran bahasa indonesia yang di dapat pada waktu kita duduk dibangku SMA cuma ada poin - poin yang lebih di perdalam lagi disaat kita kuliah ini, dan pada mata kuliah bahasa indonesia 1 ini lebih mengutamakan pengetahuan secara lebih dalam ilmu bahasa indonesia itu sendiri baik dalam bebicara maupun dalam kegiatan melulis serta pengetahuan khusus mengenai arti tentang bahasa itu sendiri maupun sejarah yang terdapat dalam perjalanan bahasa indonesia dari masa ke masa hingga sampai pada saat ini, dan untuk saya pribadi mata kuliah ini berguna dan bermanfaat sekali dalam dunia pendidikan sekarang ini,jangan sampai kita hanya mengetahuinya sebatas berbicara dalam berbahasa indonesia saja tetapi lebih jauh dari itu diharapkan kita dapat mengetahuinya lebih dalam lagi tentang pelajaran bahasa indonesia itu, terimakasih buat ibu dosen tercinta yang telah membimbing dalam bebahasa indonesia yang baik.

Ahmad Rohimi
10207071 / 3EA10

date

KRITIK :
• Terkadang mengalami gangguan pada saat pengiriman tugas, sehingga tugas yang kita kirim tidak terbaca studentsite. untuk itu pihak yang menangani studentsite seharusnya lebih cepat lagi memperbaikinya, sehingga kami bisa lebih mudah dan tepat pada waktu mengumpulkannya.


SARAN :
• Pertemuan dosen 1 bulan sekali, terkadang membuat kami kurang mengerti dengan tugas yang diberikan dosennya, kami mengharapakan pertemuannya 1 bulan 2 kali dengan dosennya, agar semua tugasnya bisa kami kerjakan dengan baik.


KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MATA KULIAH SOFTSKILL
KELEBIHAN :
1.Dapat memotovasi mahasiswa/i menjadi lebih kreatif dalam menuangkan ide - ide yang selama ini terpendam.

2.Meringankan waktu, tenaga, dan pikiran karena hanya sekali pertemuan dalam sebulan dan tidak terdapat UTS dan UAS pada mata kuliah ini.
3.Mahasiswa/i menjadi lebih mandiri.

KELEMAHAN :
1.Pertemuan hanya sekali dalam sebulan mengakibatkan mahasiswa/i merasa kurang mengerti terhadap tugas yang diberikan. Hal tersebut menyebabkan kesalahan dan kekeliruan dalam mengerjakan tugas yang diberikan, terutama pada awal diterapkannya mata kuliah softskill.

2.Dosen tidak begitu efektif dalam penyampaian materi dan tugas untuk mahasiswa/i.

3.Sering terjadi kemacetan atau error saat memasukkan tugas ke studentsite.

date Senin, 31 Mei 2010

1. Allah Maha tahu keadaan kita, lebih tahu daripada kita sendiri. Dia tidak akan pernah mendzolimi hambaNya, hadapilah setiap persoalan sesuai tuntunanNya sambil bergantung hanya kepadaNya.

2. Jangan terjebak oleh rasa takut sebelum menghadapi persoalan, sudah sering kita cemas dan gentar diawal, tapi sesudah dihadapi ternyata tak segawat yang diduga.

3. Berani hidup berarti harus berani menghadapi masalah, jangan takut dan gentar, hadapi dengan benar dan tawakal, karena setiap masalah sudah diukur Allah sesuai kemampuan kita.

4. Gelas bening berisi air bening mudah nampak kotoran yang masuk. Hati beningpun demikian mudah tahu dan sadar setiap kali berbuat kesalahan, peka dan mudah tobat.

5. Persoalan adalah bagian dari kehidupan kita, pasti ada. Mencegah berarti meminimalkan adalah kebaikan, tapi lari dari masalah berarti membesarkan bencana.

6. Gelas kotor berisi air keruh tak bisa mendeteksi kotoran yang masuk. Begitulah hati yang keruh dan kotor tak mau mengaku bersalah walau berlumur dosa dan maksiat.

7. Sikap emosional ciri belum terampil mengendalikan diri. Bagaimana mungkin mengendalikan orang lain dengan baik, bila diri sendiri kurang terkendali. Jangan emosi.

8. Kekuatan terhebat dan terdahsyat dari seorang pemimpin adalah keteladanan. Jangan menyuruh sebelum menyuruh diri, jangan melarang sebelum melarang diri. Rasakan manfaatnya.

9. Alangkah indahnya hari ini jika kita awali dengan wajah cerah, senyum tulus, kata – kata penuh semangat dalam kebaikan, tak ada yang terganggu, yang ada hanya manfaat dan manfaat.

10. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi, siapapun yang tak siap dengan perubahan dan tak sungguh – sungguh merubah diri menjadi lebih baik niscaya akan berat menghadapi hidup ini.

11. Hati yang bening akan peka terhadap ladang amal, sehingga apapun yang dia lihat menjadi ladang amal sholehnya, walau sekecil apapun, misal memungut puntung rokok.

12. Air yang menetes terus menerus walau kecil akan melubangi batu. Begitulah kelembutan yang konsisten / istiqomah, merupakan kekuatan merubah sekeras apapun hati, Insya Alloh.

13. Hati – hati ! Kebiasaan mudah mengkritik dan mengoreksi orang lain tanpa memperhatikan niat, etika, dan suasana, niscaya akan membuat kita dijauhi dan tak disukai.

14. Keberanian untuk mengatakan “Tidak Tahu” untuk yang tidak diketahui jauh akan lebih menenangkan dan dihormati daripada selalu ingin kelihatan serba tahu atau sok tahu.

15. Kunci sukses diri 2T ; Terus temukan kekurangan diri, Terus kembangkan potensi diri.

16. Kesombongan merupakan tanda kebodohan, bodoh tidak tahu bahwa dirinya milik Tuhannya, dan bodoh tidak tahu bahwa kesombongan tidak menambah selain kehinaan.

17. Bila cermin kotor, bagaimana mungkin digunakan untuk bercermin orang lain, sedang bercermin diri saja sulit. Begitulah jika hati kotor sulit jadi teladan, karena menilai diri saja tidak bisa.

18. Kemarahan yang tidak pada tempatnya dan tidak dengan cara yang tepat, lebih banyak menimbulkan masalah baru daripada menyelesaikan masalah yang ada.

19. Tidak akan tepat dan adil dalam mengambil keputusan, kecuali diawali dengan mencari informasi, data, dan fakta seakurat dan selengkap mungkin serta tidak emosional.

20. Kurangi kebiasaan menyuruh dan melarang, karena yang penting adalah membuat orang paham, bila paham orang akan melaksanakan dengan kesungguhan dan ketulusan.

21. Jangan terpukau oleh tingginya jabatan, tetapi ingat akan tingginya resiko yang dipikul. Jangan terpesona oleh besarnya kekuasaan, tetapi ingat akan besarnya tanggung jawab.

22. Lari dari tanggung jawab adalah perbuatan yang amat hina, termasuk perbuatan munafik. Kehormatan dan harga diri seorang pemimpin adalah kemampuan memikul tanggung jawab.

23. Pemimpin yang baik bukan yang menuntut bawahannya harus bekerja dengan baik, tetapi sampai sejauh mana dia membantu anggotanya bisa bekerja dengan baik.

24. Sikap arif dan bijaksana adalah kemampuan seseorang untuk memilih yang utama diantara yang terbaik. Oleh karena itu hanya orang yang gemar melakukan yang terbaiklah yang bisa berbuat bijaksana.

25. Kerendahan hati seorang pemimpin merupakan tanda kekuatan dan kematangan pribadinya, yang tidak menjadi sombong dengan kedudukannya. Karena kesombongan tanda kelemahan.

26. Ciri keteladanan kita kurang tulus adalah : banyaknya keluhan dan kekecewaan diri serta melemahnya semangat kita melihat tim belum mengikuti yang dicontohkan.

27. Komentar spontan kita mungkin hanya satu patah kata, tetapi bisa melukai hati dan menimbulkan kebencian mendalam. Oleh karena itu waspadalah walau hanya sepatah kata.

28. Semakin menjadi pemarah, maka semakin tak disukai siapapun. Karena kata, sikap, dan keputusan pemarah lebih cenderung memuaskan nafsu, menyakiti, dan tidak adil.

http://captaincoco.blogsome.com/2006/04/28/kata-kata-mutiara/

date Jumat, 21 Mei 2010


Kritik dan saran untuk pembelajaran soft skill
suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya.

            Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.
Pada prinsipnya yang mendasari akan kesuksesan dunia pendidikan buat saya sendiri adalah adanya kerjasama  yg baik dalam proses penyampaian dan penerimaan informasi tentang kegiatan atau hal yang dibutuhkan yaitu adanya kinerja pembimbing yang baik serta dapat menerapkan apa yang mesti dilakukan oleh yang dibimbing dalam hal kemampuan mengerjakan  tugas-tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya , dan untuk yang dibimbing harus lebih teliti dan cermat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan demi tidak terjadinya kesalahan  nantinya setelah tugas tersebut dibuat.
Ahmad Rohimi
3EA10 / 10207071

date


SOFT SKILL

Mengapa ?

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya.

Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.


Apa ?

Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.

Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)


Pada proses rekrutasi karyawan, kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam menempatkan ‘the right person in the right place’.

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

Hal tersebut menunjukkan bahwa : hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik.
Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.


Bagaimana ?

Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.

Pada posisi bawah, seorang karyawan tidak banyak menghadapai masalah yang berkaitan dengan soft skill. Masalah soft skill biasanya menjadi lebih kompleks ketika seseorang berada di posisi manajerial atau ketika dia harus berinteraksi dengan banyak orang. Semakin tinggi posisi manajerial seseorang di dalam piramida organisasi, maka soft skill menjadi semakin penting baginya. Pada posisi ini dia akan dituntut untuk berinteraksi dan mengelola berbagai orang dengan berbagai karakter kepribadian. Saat itulah kecerdasan emosionalnya diuji.

Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain.
http://infocomcareer.com/?fuseaction=home.viewarticle&id=6

date



Segala puji bagi Rabb alam semesta, shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Duhai Saudaraku…
Pernahkah engkau memperhatikan seorang anak kecil yang tengah bersama orang tuanya? Atau, ingatlah masa kecilmu dulu sampai masa sekarang.

Ingatlah betapa besar kasih sayang kedua orang tuamu kepadamu. Ingatlah betapa besar perhatian mereka akan tempat tinggalmu, makan dan minummu, pendidikanmu, serta penjagaan mereka pada waktu malam dan siang. Ingatlah betapa besar kekhawatiran mereka ketika engkau sakit hingga pekerjaan yang lain pun mereka tinggalkan demi merawatmu. Uang yang mereka cari dengan susah payah rela mereka keluarkan tanpa pikir panjang demi kesembuhanmu. Ingatlah kerja keras siang malam yang mereka lakukan demi menafkahimu. Niscaya engkau akan mengetahui kadar penderitaan kedua orang tuamu pada waktu mereka membimbing dirimu hingga beranjak dewasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam Al qur’an, agar manusia berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.’” (Al Israa’: 23-24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 36, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An Nisaa’: 36)

Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah. Karena itu bisa kita pahami bahwa tidak boleh terjadi bagi seorang yang mengaku bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha salamah wal ‘afiyah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Menciptakan dan Allah yang Memberikan rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang berhak diibadahi. Sedangkan orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Saudaraku, marilah kita belajar dari mulianya akhlaq para salaf dalam berbakti kepada kedua orang tuanya. Sesungguhnya dari kisah mereka kita dapat mengambil pelajaran yang baik. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Seorang lelaki ada yang pernah menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Ia bertanya, “Ada apa dengan Muhammad? Apakah ia sakit?” (karena Muhammad bin Sirin suaranya lirih hampir tak terdengar bila berada di hadapan ibunya. red). Orang-orang di situ menjawab, “Tidak. Cuma demikianlah kondisinya bila berada di rumah ibunya.”

Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafshah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya dengan suara keras demi menghormati ibunya tersebut.”

Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak.”

Dari Muhammad bin sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, pada masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah bin Zaid bin Haritsah mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu), lalu diberikan kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku menhendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”

Saudaraku, andaikan (kelak) kita menjadi orang tua, tidakkah kita akan kecewa dan bersedih hati bila anak kita berkata kasar kepada kita, orang tuanya yang telah membesarkannya. Lalu, apakah kita akan tega melakukannya terhadap orang tua kita saat ini? Mereka yang selalu berusaha meredakan tangis kita ketika kecil. Ingatlah duhai saudariku, doa orang tua terutama ibu adalah doa yang mustajab. Maka janganlah sekali-kali engkau menyakiti hati mereka meskipun engkau dalam pihak yang benar.

Cermatilah kisah berikut ini saudaraku…

Dari Abdurrahman bin Ahmad, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ada seorang wanita yang datang menemui Baqi’ dan mengatakan, “Sesungguhnya anakku ditawan, dan saya tidak memilki jalan keluar. Bisakah anda menunjukkan orang yang dapat menebusnya; saya sungguh sedih sekali.” Beliau menjawab, “Bisa. Pergilah dahulu, biar aku cermati persoalannya.” Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan berkomat-kamit. Tak berapa lama berselang, wanita itu telah datang dengan anak lelakinya tersebut. Si anak bercerita, “Tadi aku masih berada dalam tawanan raja. Ketika saya sedang bekerja paksa, tiba-tiba rantai di tanganku terputus.” Ia menyebutkan hari dan jam di mana kejadian itu terjadi. Ternyata tepat pada waktu Syaih Baqi’ sedang mendoakannya. Anak itu melanjutkan kisahnya, “Maka petugas di penjara segera berteriak. Lalu melihatku dan kebingungan. Kemudian mereka memanggil tukang besi dan kembali merantaiku. Selesai ia merantaiku, akupun berjalan, tiba-tiba rantaiku sudah putus lagi. Mereka pun terbungkam. Mereka lalu memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya, ‘Apakah engkau memilki ibu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Mereka pun berujar, ‘mungkin doa ibunya, sehingga terkabul’.”

Kejadian itu diceritakan kembali oleh al Hafizh Hamzah as Sahmi, dari Abul Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik. Ia menceritakan, aku pernah mendengar Abdurrahman bin Ahmad menceritakannya pada ayahku, lalu ia menuturkan kisahnya. Namun dalam kisahnya disebutkan, bahwa mereka berkata, “Allah telah membebaskan kamu, maka tidak mungkin lagi bagi kami menawanmu.” Mereka lalu memberiku bekal dan mengantarkan aku pulang.

Duhai Saudaraku…..

Maukah engkau kuberitahu amalan utama yang dapat membuatmu dicintai Allah? Tidakkah engkau ingin dicintai Allah, saudariku? maka sambutlah hadist berikut ini.

“Dari Abdullah bin Mas’ud katanya: ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah,’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktu), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah.’” (HR. Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9)

Duhai Saudarku …

Tidakkah engkau ingin selalu dalam keridhaan Allah? Maka, jadikanlah kedua orang tuamu ridha kepadamu, sebab keridhaan Allah berada dalam keridhaan kedua orang tuamu. Dan kemurkaan Allah berada dalam kemurkaan kedua orang tuamu. Seandainya ada seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal perbuatan seribu orang shiddiq, namun dia durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak akan melihat amalannya yang begitu banyak walau sedikit pun. Sedangkan tempat kembali orang seperti ini tidak lain adalah neraka. Dan tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang membuat wajah kedua orang tua atau salah satu dari mereka tertawa, kecuali Allah akan mengampuni semua kesalahan dan dosanya. Dan tempat kembali orang seperti ini adalah surga. Tidakkah kita menginginkan surga, saudariku?


Duhai Saudaraku…..

Sesungguhnya hak-hak kedua orang tuamu atas dirimu lebih besar dan berlipat ganda banyaknya sehingga apapun yang engkau lakukan dan sebesar penderitaan yang engkau rasakan ketika kamu membantu bapak dan ibumu, maka hal itu tidak akan dapat membalas kedua jasanya. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ’si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9)


Duhai Saudaraku…..

Tidakkah engkau ingin diluaskan rizkimu dan dipanjangkan umurmu oleh Allah? Maka perhatikanlah dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu dawud 1693)

Duhai Saudaraku…..,

betapa besar semangat dan bahagianya hati kita ketika silaturrahim kepada teman-teman kita. Perjalanan jauh pun tidak kita anggap sulit. Ketika sudah bersama mereka, waktu seakan berjalan dengan cepat. Lalu, manakah waktu untuk silaturrahim kepada kedua orang tua kita? Beribu alasan pun telah kita siapkan.

Tahukah engkau saudaraku, bukankah orang tua adalah keluarga terdekat kita. Maka merekalah yang haknya lebih besar untuk kita dahulukan dalam masalah silaturrahim. Ingatlah pula bahwa merekalah yang selalu berada di sisi kita baik ketika bahagia maupun duka, berkorban dan selalu menolong kita lebih dari teman-teman kita. Lalu, masih enggankah kita membalas segala pengorbanan mereka?

Duhai Saudaraku…..

Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan sebuah keharusan, bahkan hal ini harus didahulukan daripada fardlu kifayah serta amalan-amalan sunnah lainnya. Didahulukan pula daripada jihad (yang hukumnya fadlu kifayah) dan hijrah di jalan Allah. Pun harus didahulukan daripada berbuat baik kepada istri dan anak-anak. Meski tentu saja hal ini bukan berarti kemudian melalaikan kewajiban terhadap istri dan anak-anak.

Saudaraku, taatilah kedua orang tuamu dan janganlah engkau menentang keduanya sedikit pun. Kecuali apabila keduanya memerintahkan padamu berbuat maksiat kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada ketaatan bagi makhluk apabila pada saat yang sama bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman 14-15)

Sering kali, ketika rasa kecewa telah memenuhi hati kita, kekecewaan yang muncul akibat orang tua yang tidak tahu dan tidak paham akan kebenaran Islam yang sudah kita ketahui, bahkan ketika mereka justru menjadi penghalang bagi kita dalam tafaquh fiddin, kita jadi seakan-akan mempunyai alasan untuk tidak mempergauli mereka dengan baik.


Saudaraku, ingatlah bahwa sejelek apapun orang tua kita, kita tetap tidak akan bisa membalas semua jasa-jasanya. Ingatlah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tetap memerintahkan kita untuk mempergauli mereka dengan baik, meskipun mereka telah menyuruh kita berbuat kesyirikan. Ya, yang perlu kita lakukan hanyalah tidak mentaati mereka ketika mereka menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah dan tetap berlaku baik pada mereka. Lebih dari itu, tidakkah kita ingin agar bisa mereguk kebenaran dan keindahan Islam bersama mereka, saudariku? Tidakkah kita menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka sebagaimana mereka yang selalu menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi kita? Tidakkah kita ingin agar Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya? Karena itu, bersabarlah saudaraku. Bersabarlah dalam membimbing dan berdakwah pada mereka sebagaimana mereka selalu sabar dalam membimbing dan mengajari kita dahulu. Jangan pernah putus asa saudaraku, batu yang keras sekalipun bisa berlubang karena ditetesi air terus menerus.


Tahukah engkau saudaraku, salah satu doa yang mustajab? Yaitu doa dari seorang anak yang shalih untuk orang tuanya. Sambutlah kembali hadiah nabawiyah ini, saudariku.

Dalam hadist Abu Hurairoh radhiyallahu anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia mati, putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah pasti mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang shalih ke surga, maka ia bertanya, ‘Ya Allah, bagaimana itu bisa terjadi?’ Allah menjawab, ‘Berkat istigfar anakmu untukmu.’” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kelak akan datang kepada kamu sekalian seseorang bernama Uwais bin ‘Amir, anak muda yang belum tumbuh janggutnya, keturunan Yaman dari kabilah Qarn. Pada tubuhnya terkena penyakit kusta, namun penyakit itu sembuh daripadanya, kecuali tersisa seukuran uang dirham. Dia mempunyai ibu yang ia sangat berbakti kepadanya. Apabila ia berdoa kepada Allah niscaya dikabulkan, maka jika engkau bertemu dengannya dan memungkinkan minta padanya memohonkan ampun untukmu maka lakukanlah.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Nah, saudaraku. Janganlah engkau enggan untuk berdoa demi kebaikan orang tuamu. Sekeras apapun usaha yang engkau lakukan, bila Allah tidak berkehendak, niscaya tidak akan pernah terwujud. Hanya Allahlah yang mampu Memberi petunjuk dan membukakan pintu hati kedua orang tuamu. Mintalah pada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Memohonlah terus pada-Nya dan jangan pernah bosan meski kita tidak tahu kapankah doa kita akan dikabulkan. Pun seandainya Allah tidak berkehendak untuk memberi mereka petunjuk hingga ajal menjemput mereka, ingatlah bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Janganlah berhenti berdoa saudariku, karena tentu engkau sudah tahu bahwa doa seorang anak shalih untuk orang tuanya tidaklah terputus amalannya meski kedua orang tuanya sudah meninggal.

Sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita sholallahu ‘alaihi wassalam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan diada-adakan dan setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka.

Allahummaghfilana wa li waalidainaa warham huma kamaa robbayanaa shighoro


Untuk bapak ibu, yang telah merawat dan memberikan kasih sayang berlimpah padaku. Tiada yang kuinginkan bagi kalian selain kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, serta mengumpulkan kita di dalam Jannah-Nya.

Maraji’:
1.Aina Nahnu min Akhlaq As Salaf (Abdul Aziz bin Nashir al Jalil)
2.Birrul Walidain (Yazid bin Abdul Qodir Jawas)
3.Bustaan Al Waa’idziin wa Riyaadh Al Saami’iin (Ibnul Jauzi)

http://andreanelfachri.wordpress.com/akhlaq/hormatilah-kedua-orang-tuamu/

date Minggu, 09 Mei 2010